Kota Lama adalah potongan sejarah, karena dari sinilah ibukota Jawa Tengah ini berasal. Semarang dan Kota Lama seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Dan tentu saja ini menghadirkan keunikan tersendiri. Sebuah gradasi yang bisa dibilang jarang ada ketika dua generasi disatukan hingga menciptakan gradasi yang cantik sebenarnya.
Pada dasarnya area Kota Lama Semarang atau yang sering disebut Outstadt atau Little Netherland mencakup setiap daerah di mana gedung-gedung yang dibangun sejak zaman Belanda. Namun seiring berjalannya waktu istilah kota lama sendiri terpusat untuk daerah dari sungai Mberok hingga menuju daerah Terboyo.
Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan di benua Eropa sekitar tahun 1700-an. Hal ini bisa dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah. Hal ini tentunya bisa dibilang wajar karena faktanya wilayah ini dibangun saat Belanda datang. Tentunya mereka membawa sebuah konsep dari negara asal mereka untuk dibangun di Semarang yang nota bene tempat baru mereka. Tentunya mereka berusaha untuk membuat kawasan ini feels like home bagi komunitas mereka.
Dari segi tata kota, wilayah ini dibuat memusat dengan gereja Blenduk dan kantor-kantor pemerintahan sebagai pusatnya. Mengapa gereja? Karena pada saat itu pusat pemerintahan di Eropa adalah gereja dan gubernurnya. Gereja terlibat dalam pemerintahan dan demikian pula sebaliknya.
Bagaimanapun bentuknya dan apapun fungsinya saat ini, Kota Lama merupakan aset yang berharga bila dikemas dengan baik. Sebuah bentuk nyata sejarah Semarang dan sejarah Indonesia pada umumnya.
INI ADALAH SALAH SATU JUDUL NOVEL KARYA AGNES JESICA YANG TERBARU.
Sepatu Kaca, Pembawa Petaka dan Cinta
Posted by: Indra on: Februari 27, 2008
In: resensi Comment!
Judul : Sepatu Kaca
Penulis : Agnes Jessica
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Tebal : 240 halaman
Lagi-lagi ibu rumah tangga menghasilkan novel fenomenal. Siapa lagi kalo bukan Agnes Jessica. Mantan guru Matematika ini kembali dengan novelnya yang entah untuk kali keberapanya diterbitkan Gramedia. Masih sama dengan novel-novel kebanyakan, cinta tak luput dari permasalahan dalam cerita.
Novel Agnes yang terbaru dari Gramedia ini berjudul Sepatu Kaca. Kok Sepatu Kaca sih? Ya iyalah, kalo sepatu besi kan gak lucu (~nggak ding, just kidding~). Karena novel ini berkisah tentang keluarga Lolo, tokoh utama dalam novel ini, yang orang tuanya mempunyai toko sepatu. Dan Sepatu Kaca itu adalah nama toko kedua orang tua Lolo yang cukup sukses.
Namun, Lolo tidak menyangka bahwa ketika pulang ke Indonesia, kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Toko sepatu dan rumah keluarganya disegel, sementara mama-papanya menghilang. Belum lagi kebingungannya pdar karena mendadak jadi tunawisma, seorang pemuda menagih utang orang tuanya sebesar dua ratus juta!
Sudah tentu Lolo yang baru berusia delapan belas tahun tidak bisa membayarnya. Maka pemuda yang menagih utang itu, yang bernama Kingsley, menyanderanya. Bagi Kingsley, Lolo adalah jaminan. Ia memaksa gadis itu tinggal di “gudang”nya. Bukan apa-apa! Menurut Kingsley siapa tahu saat orang tua gadis itu muncul, mencari putrinya, ia bisa mendapatkan uang yang berguna bagi masa depannya.
Seiring berjalannya waktu, keduanya, Lolo dan Kingsley bertambah akrab, walau memiliki selisih umur dua tahun. Malahan Kingsley berniat membantu mencari tahu, mengapa orang tua Lolo yang sukses itu tiba-tiba bangkrut. Dan bahu-membahu pula keduanya berusaha meraih lagi kejayaan toko sepatu itu, dan itu menjadikan cinta tumbuh di antara mereka berdua.
Pokoknya, hasrat pembaca yang haus bacaan akan terpenuhi dengan membaca novel ini. Permasalahan-permasalahan kompleks terjadi di dalam novel setebal 240 halaman ini, pasti pernah kita alami. Bagaimana kita dikhianati, bagaimana kita disenangi, bagaimana kita dicemburui, bagaimana kita dicintai, dan bagaimana kita mencintai ada dalam novel karya Agnes Jessica. Tak disangka mantan guru (sori kalo masih jadi guru) Matematika ini bisa menulis novel se~kompleks ini.
